">
SI Bisnis

Bisnis Leasing Perlu Waspada, Daya Beli Sektor Ritel dan Otomotif Berpotensi Melambat

Ilustrasi bisnis leasing (Foto: Internet)

SumutInvest.com, Jakarta | Kinerja moncer peningkatan outstanding piutang pembiayaan industri multifinance sepanjang kuartal I/2022 jangan langsung bikin girang.

Potensi penurunan akibat pelemahan daya beli masyarakat masih ada di depan mata.

Berdasarkan statistik Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terkhusus sektor industri keuangan non-bank (IKNB), piutang pembiayaan neto industri leasing per Maret 2022 mencapai Rp 374 triliun.

Nominal ini tercatat naik 2,8 persen (year-on-year/yoy) secara tahunan.

Hal ini sekaligus melanjutkan tren pemulihan sejak awal tahun, dari Januari 2022 senilai Rp 367,11 triliun dan Februari 2022 senilai Rp 371,6 triliun, kendati masih jauh dari rata-rata sebelum pandemi Covid-19 di atas Rp 450 triliun.

Untuk sektor ritel, Yongky Susilo, Retail & Consumer Strategist sekaligus Staf Ahli Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Belanja Indonesia (HIPPINDO) menjelaskan potensi penurunan masih ada, karena biasanya masyarakat akan mulai mengerem belanja di kisaran sebulan setelah lebaran.

Namun, diharapakan jangan sampai kondisi perekonomian kembali anjlok akibat tekanan inflasi dan gejolak faktor eksternal.

Apabila hal ini terjadi, tentu momentum pembiayaan para multifinance yang bermain di produk cicilan atau bayar tunda (paylater) elektronik, gadget, dan alat rumah tangga akan kembali melambat.

“Ini fenomena umum yang terjadi setiap tahun. Tapi khusus lebaran saat ini yang masih dibayangi potensi ketidakpastian akibat kondisi perekonomian global, harapannya aktivitas ekonomi internal masih bagus, sehingga inflasi tidak terlalu berpengaruh buat sektor ritel. Kami yakin pusat belanja masih akan ramai, pemain pembiayaan pun ada potensi support terus tren ini,” ujarnya dikutip Bisnis, Kamis (28/4/2022).

Yongky percaya bahwa penjualan barang elektronik dan gadget di pusat perbelanjaan pada kuartal II/2022 ini masih akan meningkat sampai 30 persen, bahkan lebih dari dua kali lipat untuk beberapa merek tertentu yang memiliki market share besar di Tanah Air.

Penopangnya, momentum lebaran dan meredanya Covid-19 varian Omicron pada awal tahun.

“Potensi buat pembiayaan gadget dan elektronik, seperti TV, kulkas, microwave, itu masih ada, terutama di daerah luar Jawa, juga Tier II dan III Pulau Jawa. Saya lihat adanya produk cicilan dan paylater memang menolong sekali di era pemulihan selepas pandemi lalu. Kami yakin, tren ini masih bertahan sampai akhir tahun,” tambahnya.

Adapun, terkhusus sektor otomotif, mantan bos Astra Credit Companies (2015) sebagai pengamat industri pembiayaan dan otomotif Jodjana Jody melihat bahwa pembiayaan kendaraan hanya akan bergerak tipis setelah lebaran.

Penyebabnya, yaitu harga jual unit yang lebih mahal akibat kenaikan PPN dan berkurangnya persentase subsidi pajak barang mewah (PPnBM) untuk beberapa jenis mobil baru.

Selain itu, konsumen akan lebih waspada terhadap inflasi, terutama akibat naiknya harga bahan bakar minyak (BBM).

Momentum penjualan kendaraan maksimal yang bisa dipetik para pemain leasing sebenarnya ada di kuartal I/2022. Artinya, ada potensi nominal penyaluran pembiayaan pada kuartal-kuartal berikutnya tidak akan sebesar awal tahun lalu.

“Saya lihat para pemain pembiayaan kendaraan akan mulai membidik prospek kinerja yang lebih realistis, karena kondisi selepas kuartal II/2022 ini akan berbeda sekali dengan awal tahun,” jelasnya.

Beberapa pemain pun percaya bahwa potensi penurunan memang bisa terjadi, salah satunya Presiden Direktur PT CIMB Niaga Auto Finance (CIMB Niaga Finance/CNAF) Ristiawan Suherman.

Sebagai gambaran, pada kuartal I/2022, penyaluran pembiayaan baru CNAF telah mencapai Rp 2,35 triliun, tercatat tumbuh 136 persen (yoy) ketimbang capaian kuartal I/2021 yang ketika itu senilai Rp 1 triliun.

“Potensi bahwa kuartal I/2022 ini bakal jadi penyaluran kuartalan tertinggi sepanjang tahun ini memang memungkinkan. Kalau bisa setara pun sudah bagus sekali,” ujarnya dalam diskusi terbatas bersama media beberapa waktu lalu.

Pria yang akrab disapa Aris ini melihat kondisi perekonomian nasional pada kuartal II/2022 sampai kuartal IV/2022 nanti bakal lebih menantang akibat melonjaknya risiko ketidakpastian, terutama dampak konflik geopolitik dan potensi lonjakan inflasi yang bakal menekan kembali daya beli masyarakat.

Namun, Aris masih optimistis kinerja sepanjang tahun ini masih bisa lebih tinggi ketimbang tahun lalu minimal 30 persen (yoy), tepatnya dari Rp 5,67 triliun menjadi sekitar Rp 8 triliun.

Direktur Utama PT Home Credit Indonesia (Home Credit) Animesh Narang pun sepakat bahwa potensi masyarakat mengerem belanja memang ada, tapi tidak merata di semua objek pembiayaan.

Oleh sebab itu, memperluas kerja sama dengan berbagai merchant merupakan kunci untuk mempertahankan kinerja. Sebagai contoh, Home Credit juga mengakomodasi cicilan dan paylater untuk belanja kebutuhan harian di beberapa brand supermarket dan minimarket ternama di Indonesia.

“Ketika masa pandemi dan PPKM tahun lalu, transaksi via online naik karena tidak ada kegiatan belanja secara offline. Jadi karena tahun ini pusat perbelanjaan sudah lebih aktif, kami yakin masih bisa tumbuh karena kemitraan kami di ekosistem offline sangat kuat,” ujarnya.

Sebagai gambaran, khusus kuartal I/2022, Home Credit berhasil menyalurkan pembiayaan sebesar Rp 1,69 triliun atau tercatat tumbuh 10 persen (yoy) dibandingkan capaian kuartal I/2021, yang ketika itu senilai Rp 1,54 triliun.

Adapun, penyaluran Home Credit sepanjang tahun lalu totalnya senilai Rp 6,5 triliun.

Perusahaan pembiayaan digital yang fokus di pembiayaan cicilan dan paylater terkait gadget, elektronik, alat rumah tangga, dan operasional UMKM ini masih optimistis mengincar tumbuh dobel digit pada akhir tahun ini. [Red]

Komentar di sini

Most Popular

">
To Top