Inspirasi

Ketum Forum Jurnalis Batak: Sukses Adalah Setia Menggeluti Panggilan Hidup

Jamida Pasaribu (memegang tape recorder) saat mewawancarai Sudono yang saat itu menjabat Menaker sekitar tahun 1988. Foto (istimewa)

Sumutinvest.com, Jakarta Profesi jurnalis adalah pekerjaan mulia, bahkan dianggap memiliki kekuatan moral karena mampu menggerakkan kekuatan massa, masyarakat.

Jurnalis, fungsinya selain memberi informasi kepada masyarakat atas sebuah peristiwa yang berlandaskan fakta dan data, juga sebagai penyampai edukasi ke publik atau masyarakat.

Jurnalis yang hebat itu hormat pada fakta dan data. Bukan membuat berita atas opini atau imajinasi liar.

Tentu, orang yang memilih hidup bekerja dengan panggilan jiwa jurnalis memang tak mudah menjalaninya. Dibutuhkan kesabaran, kesetian dan kegigihan untuk bisa bertahan di profesi ini. Semua diuji waktu.

Salah satu sosok yang teruji waktu dan setia dengan profesinya adalah Jamida Pasaribu (68 tahun).

Pria kelahiran Samosir, 5 Oktober 1952 ini mengawali karier sebagai jurnalis atau wartawan di harian umum Sinar Indonesia Baru (SIB) sejak 47 tahun.

Suami Rohani Sitanggang, MPd (pensiunan guru, mantan guru kepala sekolah) ini dikarunia dua orang anak. Satu perempuan dan satu laki laki.

Anak perempuannya mengikuti jejak sang istri menjadi pedagog, seorang guru, walau awalnya mengambil bidang broadcast atau penyiaran.

Jamida, anak pertama dari delapan bersaudara ini tinggal di Kota Depok, Jawa Barat. Selain menghidupi panggilan hidup sebagai jurnalis, dia juga menyempatkan diri berbagi waktu mengikuti dan mengurusi adat budaya Batak. Tak heran dia dipercaya sebagai Ketua Umum Parsadaan Pasaribu Dohot Boruna (PPDB) Se-Jabodetabek periode 2018 sampai sekarang.

Jamida bercerita, walau dulunya dia hanya mendaftar sebagai jurnalis usai lulus pendidikan terakhir SMA, namun penerimaannya jadi jurnalis di Medan waktu itu diseleksi sangat ketat, bahkan mengikuti beberapa tahapan test atau ujian, baru kemudian diterima dan dilatih jadi calon wartawan madya.

Jamida saat menerima penghargaan dari pimpinan koran SIB, tahun 2020. Foto (istimewa)

Reputasinya sebagai jurnalis semakin teruji, bahkan sempat jadi pemimpin redaksi di salah satu media. Namun yang terlama di koran SIB. Di koran yang beralamat redaksi di Kota Medan ini, dirinya pernah menjadi Kepala Perwakilan SIB di Jakarta.

Pengalaman dan rekam jejaknya di dunia jurnalis, tak membuat Jamida jumawa sebagai jurnalis senior. Dia selalu merangkul yang junior darinya. Di usianya yang tak muda lagi, dia terus bergelut dengan panggilan jiwanya sebagai jurnalis.

Walau sebenarnya usianya sudah mesti pensiun, tetapi, dia tetap bahagia menjalankan profesinya. Sehari-hari dia tetap mangkal di DPR RI, dan bergaul dengan para jurnalis muda.

Sebelum berpos di kantor DPR RI, dirinya pernah ditempatkan medianya berpos di Polda Metro Jaya, serta sejumlah kementerian seperti Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Tenaga Kerja, Kementerian Pertanian, Kementerian Kehutanan, dan Kementerian Olahraga.

Ditanya mengapa tertarik jadi jurnalis? Jamida menceritakan, awalnya dia hanya mencari kerja, tetapi setelah mendalami dunia jurnalis, keinginannya menggeluti profesi jurnalis semakin kuat.

“Setelah beberapa tahun bekerja, merasa semakin tertarik. Di samping, bermanfaat bagi masyarakat luas, juga bisa mengkritisi kebijakan pemerintah, untuk membangun kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain itu, banyak teman, mulai dari tingkat bawah hingga pejabat tinggi negera,” ujarnya.

Tentu, sebagai jurnalis, suka dan duka pernah mewarnai perjalanan profesinya.

“Ada pengalaman yang paling mengesankan dan yang sangat memilukan. Paling mengesankan, mengunjungi banyak daerah, bahkan banyak negara di dunia difasilitasi orang lain. Paling memilukan, kalau narasumber sudah janjian ketemu, tiba-tiba dibatalkan, padahal sudah menungga lama atau waktu janji sudah dekat,” ujar Jamida yang sekarang menjadi Ketua Umum Forum Jurnalis Batak (FORJUBA).

Jamida (tengah) saat berdiskusi bersama pengurus FORJUBA di Jakarta. Foto (istimewa)

Awal bulan Juni 2020 lalu, Jamida menerima penghargaan dari pimpinan SIB, atas pengabdian di SIB selama 46 tahun. Penghargaan yang ia terima, berupa PIN dan sejumlah uang. Penghargaan itu diberikan saat SIB merayakan ulang tahun ke 50.

Sebagai seorang jurnalis senior yang sudah mengecap asam garam dunia media, Jamida berpesan kepada jurnalis muda.

Pertama, rajin, tekun dan banyak membaca serta mendengar. Kedua, jangan mata duitan. Ketiga, tempatkan narasumber sebagai raja, siapapun dia dan apapun posisi dan jabatannya. Keempat, hargai profesi jurnalismu. Dan terakhir, kelima, jangan lupa, berdoa sesuai keyakinan masing-masing.

Melihat reputasinya, Jamida yang tercatat menjadi anggota jemaat HKBP Depok ini bisa disimpulkan sosok sukses karena setia atas panggilan pekerjaannya.

Tentu, selama ini definisi sukses yang kita tahu adalah meraih hasil terbaik dalam karier maupun hidup terutama materi.

Bagi Jamida, sukses merupakan adalah respon terhadap panggilan Tuhan untuk memperbaharui sesuatu dengan cara mengajak, mempengaruhi dengan keberanian dan kesetiaan.

Bahkan, lebih jauh lagi, Jamida telah mencapai sukses sejati yakni kesetiaan melakukan panggilan melalui talenta yang diberi Tuhan kepada dirinya. Atau dengan kata lain, dapat dikatakan kesuksesan Jamida adalah kesetiaan mengerjakan profesinya sebagai seorang jurnalis menjadi panggilan hidup. (HM/tio)

Komentar di sini

Most Popular

To Top