SI Inspirasi

Pak Hartono, Pelukis Spanduk Pecel Lele yang Legendaris

Medan, Sumutinvest.com – Siapa sih yang tidak kenal dengan spanduk pecel lele? Spanduk yang banyak terletak dipinggir jalan yang menampilkan gambar seperti ayam, bebek, ikan, seafood dan lainnya.

Diketahui, spanduk pecel lele ini merupakan hasil lukisan tangan yang selama ini belum banyak dikenal identitasnya loh. Lalu siapa pencetus spanduk pecel lele tersebut?

Ia adalah Pak Hartono yang berasal dari Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Saat ini, ia tinggal di kawasan Pekayon Jaya, Bekasi Selatan, Kota Bekasi.

Awal mulanya, pada tahun 1992, ia berniat membantu saudaranya untuk berjualan pecel lele di Jakarta selatan. Tujuh tahun kemudian, Pak Hartono memutuskan untuk membuka usaha sendiri. Sejak saat itu, ia membutuhkan spanduk untuk dipasang pada usahanya tersebut yang saat itu berlokasi di kawasan Sawangan, Depok.

Pak Hartono mengatakan karyanya kurang memuaskan, tetapi setidaknya spanduk itu cukup untuk menjadi penutup sekaligus penghias warung pecel lelenya.

Namun tak disangka, hasil yang kurang memuaskan itu menarik perhatian banyak orang. Sejak saat itu, orang mulai berdatangan untuk memesan spanduk tersebut. Meskipun pesanan spanduk mulai berdatangan secara perlahan, tetapi pak Hartono tetap berjualan pecel lele. Proses melukis pesanan tersebut ia lakukan saat waktu senggang.

Setelah beberapa tahun berjalan, akhirnya Pak Hartono memfokuskan dirinya pada pembuatan spanduk pecel lele tersebut.

Sampai saat ini, usaha Pak Hartono yang sudah digeluti selama 20 tahun tersebut tetap laris di pasaran. Bahkan, beliau selalu melakukan inovasi-inovasi pada lukisannya dan tidak menghilangkan ciri khasnya yang menggunakan banyak warna cerah serta menjaga kualitas kain.

“Supaya bisa menjadi daya tarik pembeli yang lewat apalagi pas malam hari. Kalau tidak pakai warna mencolok, nanti gak kelihatan terang pas malam hari,” jelasnya.

Mengenai harga, Pak Hartono mengaku harga spanduknya mengikuti harga pasar. Harga yang dibanderol sekitar Rp120 ribu hingga Rp145 ribu, tergantung dari ukuran dan jumlah hewan yang ingin dilukis. Kini, ia mampu mengantongi sekitar Rp25 juta per bulan.

“Harga paling mahal biasanya spanduk makanan khas Lamongan, karena menyediakan beragam masakan laut, jadi lebih mahal,” ungkapnya.

Seiring bertambahnya pengalaman, kini Pak Hartono memproduksi spanduknya dengan dua langkah yaitu, teknik sablon untuk mencetak huruf dan melukis untuk gambar binatang.

Dikatakannya, sampai saat ini tak ada yang mau dan bisa melukis seperti apa yang dilakoninya. Bahkan, kedua putrinya tidak memiliki bakat melukis seperti Pak Hartono.

Agar semakin dikenal masyarakat luar, Pak Hartono mempromosikan jasanya dengan membuat blog yang mengaku belajar secara otodidak. Selain menjaga komunikasi dengan pelanggan, Pak Hartono juga memberi masukan-masukan kepada pemesannya, mulai dari warna, ukuran bahkan cara memasang spanduk yang benar.

“Kuncinya bikin spanduk itu kualitas, bukan kuantitas. Karena ini berhubungan dengan bagaimana melayani pelanggan. Sekali pelanggan kecewa, mereka enggak akan balik lagi bertahun-tahun, karena barang ini awet,” kata Pak Hartono. (berbagai sumber)

Komentar di sini

Most Popular

To Top