Pendidikan

Experential Learning dalam Pembelajaran Pendidikan Jasmani

Aan Aminudin. Foto (istimewa)

Penulis: AAN AMINUDIN, Dosen Program Studi Pendidikan Jasmani Kesehatan dan Rekreasi STKIP Mutiara Banten

JAKARTA – Era globalisasi yang semakin berkembang banyak mengubah karakter seorang manusia secara umum, baik itu secara individu maupun secara sosial. Nilai-nilai kearifan budaya luhur indonesia seperti nilai gotong royong, kepribadian ahlak, kerjasama dan kekeluargaan telah hilang ditinggalkan para generasi bangsa ini terutama kaum pelajar yang beralih kepada budaya-budaya asing yang tidak relevan di negara ini. Kebudayaan sebagai salah satu indikasi identitas bangsa kembali dipertanyakan ketika muncul masalah baru di khasanah pola kehidupan bermasyarakat kita, yang terjadi adalah ketidakberdayaan kita menekan arus globalisasi yang mau tidak mau terikut arus dan tunduk kepada penguasa global.

Secara kodrati manusia khususnya siswa memiliki potensi dasar yang secara essensial membedakan manusia dengan hewan, yaitu pikiran, perasaan dan kehendak. Sekalipun demikian potensi dasar yang dimilikinya tidaklah sama bagi masing-masing manusia.

Gejala yang terjadi yaitu masalah-masalah psikologi remaja. Diantaranya adanya sikap individualistik, kesenjangan, dan faktor-faktor yang menghambat berkembangnya siswa ini, hal ini dikarenakan masa ini masa remaja dan masa peralihan dari anak-anak menuju masa dewasa.  Hall (Libert 1974) ia menyatakan bahwa selama masa remaja banyak masalah yang dihadapinya karena remaja itu berupaya menemukan jati dirinya (identitasnya) dan kebutuhan akan aktualisasi diri. Aktualisasi diri merupakan bentuk kebutuhan untuk mewujudkan jati dirinya.

Pertumbuhan fisik dan perkembangan sosial-psikologis di masa remaja pada dasarnya merupakan kelanjutan, yang dapat diartikan penyempurnaan, proses pertumbuhan, dan perkembangan dari proses sebelumnya. Disamping itu remaja membutuhkan pengakuan akan kemampuannya, Maslow kebutuhan ini disebut penghargaan diri ( self esteem ). Remaja membutuhkan penghargaan dan pengakuan bahwa ia ( mereka ) telah mampu berdiri sendiri, mampu melaksanakan, tugas-tugas sendiri dan dapat bertanggung jawab atas sikap dan perbuatan yang dikerjakannya.

Sesuai dengan tingkat perkembangannya, pada tahap remaja, memiliki ciri mencari identitas diri yang berbeda dengan orang lain yang diwujudkan dalam bentuk kepribadian, sikap, dan tingkah lakunya. Penilaian orang lain atas dirinya mengenai perasaan, sikap, dan tingkah lakunya merupakan wujud dari self esteem. Untuk itu remaja harus dapat melakukan penyesuaian sosial dengan baik sesuai dengan tuntutan peran yang dijalani dalam kehidupannya dan harapan lingkungan yang harus dipenuhi.

Harga diri (self esteem) dalam pembicaraan sehari-hari lebih sering dikaitkan dengan situasi tersinggung atau penghargaan terhadap diri maupun orang lain yang dinilai melalui perilaku orang yang bersangkutan. Misalnya ungkapan “Dia tidak punya harga diri”, atau kurang percaya diri”. Ungkapan-ungkapan seperti ini memang tidak terlalu tepat dalam konteks psikologi, namun tetap menggambarkan arti penting dari harga diri. Harga diri itu sendiri mengandung arti suatu hasil penilaian individu terhadap dirinya yang diungkapkan dalam sikap–sikap yang dapat bersifat positif dan negatif. Bagaimana seseorang menilai tentang dirinya akan mempengaruhi perilaku dalam kehidupannya sehari–hari. Harga diri yang positif akan membangkitkan rasa percaya diri, penghargaan diri, rasa yakin akan kemampuan diri, rasa berguna serta rasa bahwa kehadirannya diperlukan di dunia ini. Misalnya seorang remaja yang memiliki harga diri yang cukup positif, dia akan yakin dapat mencapai prestasi yang dia dan orang lain harapkan. Pada gilirannya, keyakinan itu akan memotivasi remaja tersebut untuk sungguh-sungguh mencapai apa yang diinginkan.

Hal-hal seperti diatas ini merupakan potensi yang dapat merusak psikologi remaja. Pada dasarnya banyak cara untuk membangkitkan semangat kepribadian tadi, khususnya bagi siswa-siswi SMP, diantaranya dengan kegiatan pendidikan jasmani. Pendidikan jasmani diajarkan disekolah mempunyai peranan penting untuk memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk terlibat langsung dalam berbagai pengalaman belajar melalui aktivitas jasmani, olahraga dan kesehatan yang terpilih yang dilakukan secara sistematis. Pembekalan pengalaman belajar itu diarahkan untuk membina pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik, sekaligus membentuk pola hidup sehat dan bugar sepanjang hayat.

Tujuan utama pendidikan jasmani adalah menghasilkan manusia yang sehat, cerdas,aktif, disiplin serta sportif dan kemandirian yang tinggi. Mata pelajaran pendidikan jasmani yang dilaksanakan di sekolah merupakan salah satu program yang bertujuan untuk meningkatkan kesegaran siswa, dengan kesehatan yang baik diharapkan siswa dapat mencapai prestasi belajar yang optimal. Pada dasarnya kegiatan pembelajaran pendidikan jasmani adalah siswa yang banyak bergerak atau aktif dalam mengikuti pembelajaran. Maka dari itu, mata pelajaran pendidikan jasmani sangat berperan penting bagi kesehatan siswa. Keberhasilan pendidikan jasmani apabila dilaksankan dengan sistem yang baik seperti dirumuskan AAHPERD (American Alliance For Health Physical Education Recreation and Dance) yaitu seseorang yang terdidik pendidikan jasmaninya maka menjadi seseorang yang memiliki pengetahuan dan keterampilan sehubungan dengan jasmaninya, dan bagaimana jasmaninya itu berfungsi, badannya sehat dan bugar, prestasi akademiknya meningkat, perkembangan konsep diri maksimal serta membantu dan meningkatkan keterampilan sosialnya.

Pendidikan jasmani dalam kurikulum juga disebut secara paralel dengan istilah lain menjadi Pendidikan jasmani, olahraga, dan Kesehatan yang merupakan salah satu mata pelajaran yang disajikan disekolah mulai dari SD hingga SMA. Pada dasarnya merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan. Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan jasmani harus diarahkan pada pencapaian tujuan. Tujuan pendidikan jasmani bukan hanya mengembangkan jasmani, tetapi juga mengembangkan aspek keterampilan berfikir kritis, stabilitas emosional, keterampilan sosial, penalaran dan tindakan moral melalui kegiatan aktivitas jasmani dan olahraga.

Salah satu bentuk kegiatan pendidikan jasmani untuk mengembangkan dan menjaga self esteem tadi dilakukan kegiatan Experential Learning.  Kegiatan ini disetting dengan lingkungan yang unik para siswa diharapkan akan termotivasi dalam perbaikan diri, penghargaan diri, dan percaya diri. Dengan hal itu siswa tidak mudah akan tergoda dalam menghadapi tantangan baik itu disekolah maupun dilingkungan masyarakat sehingga dapat mengaktualisasikan dengan lebih baik.

Experential Learning ini dilakukan dalam kegiatan pembentukan karakter perilaku khususnya mengenai self esteem ( penghargaan diri ), dikarenakan metode merupakan metode yang paling efektif dalam mengakomodasi kebutuhan atau tuntutan terhadap pemahaman konsep dan membangun perilaku.

Kegiatan ini merupakan investasi bagi dunia pendidikan khususnya sekolah supaya siswa dapat belajar dengan baik, tenang, dan adanya saling menghargai sehingga kepribadian masing-masing individu jadi terjaga. Seperti yang dikemukakan oleh Hopkins, (1991) bahwa kegiatan ini menigkatkankan kemampuan jasmani dan intelektual dalam hal pemecahan masalah, pengambilan keputusan, hidup bersama secara efektif, dan kelompok yang harmonis, kerjasama, dan komunikasi, toleransi, tenggang rasa, kepemimpinan dan tanggung jawab. (*)

Komentar di sini

Most Popular

To Top