SI UKM

Covid-19 Tidak Bisa Memukul Pelaku UKM Jatuh, Asal…

Illustrasi. Foto (gramedia digital)

Medan, Sumutinvest.com – Pandemi virus corona bukan hanya sekadar bencana kesehatan, virus yang dikenal sebagai covid-19 ini telah menimbulkan kekacauan di sektor ekonomi. Tidak hanya industri besar, pandemi virus corona telah membuat pelaku UKM di Indonesia mulai gelisah.

Ketua Umum Kadin Sumatera Utara Khairul Mahalli menanggapi terkait imbas covid-19 bagi UKM di Indonesia.

Kata Khairul, ternyata ada 20% UKM yang tetap penjualannya bagus, bahkan naik 30%. Contohnya salah seorang pelaku UKM di bidang kuliner dari Bantul, Yogyakarta bernama Yoyok ‘Sultan Mbantul’, penjualanya naik 30% selama 2 bulan masa covid-19.

Lebih jauh dijelaskan Khairul bahwa UKM yang mengalami penurunan ialah UKM yang menggunakan cara-cara klasik, cara tradisional dan berbisnisnya masih konvensional yang mengakibatkan omzet penjualannya jatuh.

“Apalagi sudah konvensional, ada unsur impornya dan berhutang lagi ke bank. Ini berat, ambyar se ambyar ambyarnya,” jelas Khairul.

Khairul menerangkan mengapa yang 20% yang tidak kena efek covid-19 bisa naik penjualannya?

Kuncinya, sambung Khairul, bukan apa yang dijual, atau apa yang diproduksi tetapi model support bisnisnya yang harus beda.

“Mereka tidak konvensional, tidak pakai “brick and mortar” atau tidak harus memiliki toko, outlet dan lain sebagainya. Mereka punya produk dan punya sistem,” bebernya kepada VoIR Indonesia, di Medan, Kamis (11/6/2020).

Menurut Khairul, pelaku UKM yang penjualannya naik sudah terkoneksi dengan UKM 4.0. Apa itu UKM 4.0?

“Mereka harus menjadi profesional, produktif, kreatif, dan be entrepreneurial. Dan satu lagi harus saling terkait atau terintegrasi,” ujar pria yang gemar berpantun ini.

Para pelaku UKM era 4.0 harus terintegrasi kepada digital bisnis, tidak lagi bermain pada tataran konservatif tetapi harus dapat melihat peluang digital sehingga dapat menyasar pasar lebih luas.

Untuk mendukung UKM lebih go digital, Khairul mengharapkan pelaku UKM menggandeng sejumlah aplikasi terutama aplikasi sosial media yang tepat agar bisnisnya semakin berkembang.

Pelaku UKM 4.0 juga harus mempunyai digital stock manajemen; terintegrasi pengiriman (logistik, distribusi, dalam kota, antar kota, bahkan antar negara; terintegrasi semua sistem komunikasi dengan chat (pelanggan sampai ke semua staf); terintegrasi sistem produksi dengan penjualan.

Juga harus terintegrsi dengan pergudangan, transportasi, perpajakan dan cukai; terintegrasi dengan sistem payment getway seperti kartu kredit, retail shop, COD, e-wallet (gopay, ovo dana unitlink); termasuk reseller paltform/dropshiping.

“Ini adalah barisan sistem digital bisnis UKM 4.0. Ternyata pelaku usaha UKM yang sudah 4.0 tidak kena dengan masalah corona secara telak, turun mungkin 20%-an paling top,” kata Ketua Umum Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) itu.

Ditambahkannya, peluang ini buat semua orang, bukan hanya buat UKM termasuk mulai dari yang pelaku usaha yang kecil seperti gerobak dorong, pedagang kaki lima, penjual di pasar tradisonal, sampai pengusaha menengah beromzet ratusan juta, bahkan miliaran per bulan. (*)

Komentar di sini

Most Popular

To Top