SI UKM

Ini Alasan Kenapa UMKM Indonesia Sulit ‘Go Global’

Jakarta, Sumutinvest.com – Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) saat ini sangat mempengaruhi pertumbuhan perekonomian Indonesia. Apalagi pemerintah mendorong para pelaku UMKM bisa ke kancah internasional. Tetapi, masih banyak hambatan untuk ekspansi UMKM tersebut.

Ketua Umum Asosiasi Usaha Mikro Kecil Menengah Indonesia (Akumindo), Ikhsan Ingratubun mengatakan para pelaku bisnis UMKM masih terkendala oleh besarnya pajak ekspor yang mencapai 30% dari nilai barang yang diekspor.

“Nilai pajak sebesar itu, tentu menjadi beban tersendiri bagi UMKM kita, karena secara otomatis barang mereka akan lebih mahal ketika diterima konsumen di luar negeri. Di sisi lain, kita harus bersaing dengan produk UMKM dari negara lain yang harganya di pasar global jauh lebih rendah dari produk kita,” jelasnya minggu lalu.

Selain itu, para eksportir UMKM terhambat oleh rumitnya proses perizinan ekspor. Akibatnya, para pelaku usaha sektor tersebut harus menitipkan barangnya kepada perusahaan eksportir besar yang sudah memiliki izin ekspor.

Lanjutnya, langkah tersebut membuat para pelaku UMKM harus mengeluarkan biaya tambahan sebagai ongkos menitipkan barangnya kepada eksportir besar. Alhasil, produk yang diekspor tersebut, harganya menjadi lebih mahal.

Ikhsan mengakui, pemerintah telah memberikan kemudahan dan insentif bagi UMKM berbasis ekspor, di antaranya dalam bentuk kemudahan pengajuan kredit ekspor, penjaminan proses ekspor dan asuransi ekspor. Hal tersebut tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) No.43/2019 tentang Kebijakan Dasar Pembiayaan Ekspor Nasional.

Namun demikian, dia menilai fasilitas tersebut belum cukup mengingat para eksportir UMKM masih dibebani oleh biaya sertifikasi seperti sertifikat halal. Untuk itu, berharap agar seluruh proses sertifikasi yang dibebankan kepada UMKM digratiskan.

Hambatan selanjutnya, lanjut Ikhsan, kalangan UMKM ini tidak memiliki sumber daya seperti perusahaan besar, yang punya market intelligence sendiri. Sangat dibutuhkan bantuan pemerintah, namun sejauh ini informasi mengenai ketersediaan pasar di luar negeri sangat terbatas, padahal aspek ini merupakan hal mendasar dalam proses ekspor.

Ikhsan pun mengusulkan agar pemerintah membentuk sebuah marketplace yang khusus memajang dan menjual produk UMKM Indonesia. Langkah tersebut akan mempermudah UMKM Indonesia bertemu dengan calon pembelinya di luar negeri.

Alhasil, ia memperkirakan apabila pemerintah tidak melakukan intervensi yang lebih jauh untuk mendukung ekspor UMKM, dia tidak yakin pertumbuhan ekspor sektor tersebut bisa menembus di atas 5% per tahunnya.

Pada tahun lalu nilai ekspor UMKM hanya berkisar Rp306 triliun, atau hanya tumbuh sekitar 2% dari capaian 2017 sebesar Rp298 triliun. Sementara pada tahun ini, nilai ekspor UMKM diperkirakannya mengalami penurunan, seiring turunnya laju ekspor nonmigas RI. (SI/Bisnis)

Komentar di sini

Most Popular

To Top