SI Investasi

Investasi Pertambangan Indonesia Rendah Akibat Ketidakpastian Kebijakan

Parapat, Sumutinvest.com – Ketua Indonesia Mining Institute (IMI) yang juga Guru Besar Teknik Pertambangan ITB, Prof Irwandy Arif, mengatakan, menurunnya investasi bisnis pertambangan merupakan kerugian besar bagi Indonesia.

Hal ini diungkapkan saat orientasi lanjutan bagi media tentang pertambangan Indonesia dan dunia yang digelar PT Agincourt Resources selaku pengelola Tambang Emas Martabe, di Hotel Inna Parapat, Kabupaten Simalungun, Senin (11/3/2019).

“Pertambangan memberi dampak luas atau multiplier effect yang bisa mendorong pertumbuhan ekonomi,” ungkapnya.

Penyebab terjadinya penurunan bisnis pertambangan di Indonesia antara lain ketidakpastian tentang peraturan lingkungan, ketidakpastian tentang pengaturan daerah mana yang bisa ditambang.

Selain itu, penyebab lainnya karena ketidakpastian tentang penyelesaian sengketa tanah, duplikasi dan inkonsistensi peraturan dan tumpang tindih dan ketidakpastian mengenai penegakan peraturan yang ada.

“Dan kami baru saja kemarin ada penugasan dari Bank Dunia soal investasi bisnis tambang di Indonesia. Kami ke sejumlah daerah antara lain di Sumsel. Kita temukan bahwa ada kekhawatiran stabilitas politik, keamanan dan korupsi. Ini tidak baik bagi investasi bisnis,” tuturnya.

Faktor menurunnya investasi bisnis pertambangan Indonesia ditengarai oleh UU Nomor 4 Tahun 2009 Pertambangan Mineral dan Batu Bara (Minerba), yang kemudian menelurkan banyak ketentuan seperti peraturan pemerintah, keputusan Menteri, peraturan daerah, keputusan Gubernur dan Bupati.

“Ada puluhan ribu ketentuan di pertambangan yang ada sejauh ini, namun banyak yang tidak sinkron, tidak matching dan tidak konsisten dalam penegakannya,” sebut Irwandy.

Lebih lanjut Irwandy menyebutkan penurunan investasi bisnis pertambangan mempengaruhi pertumbuhan ekonomi nasional. Namun sayang, Irwandy belum memiliki data nominal penurunan nilai investasi itu.

“Sempat di 7% kontribusi tambang ke pertumbuhan ekonomi nasional, namun belakangan ini sudah turun, antara 4% hingga 6%. Semestinya dengan potensi mineral kita yang besar, sektor tambang bisa kita manfaatkan untuk pertumbuhan ekonomi,” sebutnya.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara menunjukkan pertumbuhan ekonomi Sumut 2018 sebesar 5,18%, atau meningkat 0,06% dari 2017 yang hanya 5,12%. Dari pertumbuhan ekonomi itu, tercatat laju pertumbuhan dari sektor pertambangan hanya 0,07%.

Irwandy sepakat sejatinya laju pertumbuhan pertambangan untuk pertumbuhan ekonomi Sumut 2018 itu harusnya lebih cepat. Untuk itu perlu sinergi antarsemua stakeholder dan sinkronisasi ketentuan yang diterbitkan pusat dan daerah. (SI/MdnBisnis)

Komentar di sini

Most Popular

To Top