Nasional

Selamat Jalan Nh Dini ‘Sastrawan & Novelis’ Indonesia

Jakarta (Sumutinvest.com) – Sastrawan dan novelis Nh Dini meninggal dunia pada sore, Selasa (4/12) pukul 16.30 karena mengalami kecelakaan di Semarang. Wanita bernama lengkap Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin ini meninggal di usia 82 tahun.

Semasa hidupnya, Nh Dini dikenal aktif melahirkan karya. Berdasarkan laporan, sastrawan kelahiran Semarang 29 Februari 1936 ini mengaku dirinya mulai menulis syair dan sajak pada usia sembilan tahun.

Mulanya, Dini menulis ditujukan pada sang kakak. Sedikit demi sedikit tulisannya meluas mengenai keadaan sekeliling rumah serta lingkungan pergaulan.

Dalam dokumen yang diperkirakan ditulis sebelum 1972, Nh Dini mengungkapkan bahwa sekembali kakak saya dari daerah pedalaman, ayah saya menunjukkan sajak-sajak tersebut kepada kakak saya serta saudara-saudara dan keluarga yang lain. Baru pada waktu itulah saya menginsyafi kesanggupan saya dalam kesusastraan.

Lebih lanjut, Dini memaparkan bahwa sang ayah menjadi sosok yang menolongnya mengembangkan bakat menulis. Dari buku-buku pinjaman, ia mulai membaca kumpulan hasil karya Rabindranath Tagore.

Baginya, yang memiliki kesan tersendiri adalah Surat dari Raja, buku-buku terbitan Balai Pustaka karya pengarang-pengarang kita seperti Suman Hs, Marah Rusli, Selasih, Amir Hamzah, bahkan kemudian pengarang-pengarang lain yang muncul pada zaman mendekati pendudukan Jepang.

Baru saat duduk di bangku SMP, Dini mulai memahami kemampuannya menulis setelah karangannya ditetapkan sebagai contoh terbaik oleh guru bahasa. Saat SMA, ia menulis cerpen pertama bertajuk Pendurhakaan yang dimuat dan diubah oleh H.B. Jassin.

Lulus SMA, Dini yang sempat turut kursus pramugari di Jakarta, mengungkapkan keinginannya mengikuti kursus Sejarah. Saat berada di dunia penerbangan, Dini menulis karya Hati jang Damai. Baginya itu menjadi sebuah kenangan mesra untuk dunia yang digelutinya, lebih-lebih penerbangan kemiliteran.

Banyak tema tulisan Dini utamanya mengangkat persoalan sosial kemanusiaan, seperti Orang-Orang Tran (1983) yang belakangan diterbitkan ulang dengan judul Tanah BaruTanah Air Kedua (1997), tentang kehidupan transmigran asal Jawa di tanah garapan baru di Kalimantan.

Meski sudah dicap sebagai seorang sastrawan, Dini tetap rendah hati dengan mengaku hanya sebagai seorang pengarang yang menuangkan realita kehidupan, pengalaman pribadi dan kepekaan terhadap lingkungan ke dalam setiap tulisannya. Ia pun digelari pengarang sastra feminis.

Beberapa karya populer Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin yang dikenal dengan nama NH Dini, di antaranya Pada Sebuah Kapal (1972), La Barka (1975) atau Namaku Hiroko (1977), Orang-orang Tran (1983), Pertemuan Dua Hati (1986), Hati yang Damai (1998), belum termasuk tulisan dalam bentuk kumpulan cerpen, novelet, atau cerita kenangan.

Dari ragam karya yang ditulisnya, Dini pun beberapa kali menerima penghargaan seperti penghargaan SEA Write Award di bidang sastra dari Pemerintah Thailand, kemudian belum lama ini ia menerima Penghargaan Sepanjang Masa atau Lifetime Achievement Award dalam malam pembukaan Ubud Writers and Readers Festival 2017.

Nh Dini meninggal dunia karena mengalami kecelakaan dalam perjalanan setelah melakukan tusuk jarum. Berdasarkan laporan khusus tentang Dini di dua tahun silam, meski pada usia 80-an Dini terbilang sehat tapi ia mesti kontrol melalui jamu-jamuan dan tusuk jarum, yakni osteoartritis dan vertigo. (SI/cnn)

Komentar di sini

Most Popular

To Top